Pemimpin Hong Kong Akui Kewalahan Hadapi Gempuran Omicron

Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mengakui bahwa daerah kekuasaannya kewalahan menghadapi gempuran gelombang kelima pandemi Covid-19 akibat kemunculan varian Omicron.

“Gempuran gelombang kelima pandemi memukul Hong Kong dan membuat kapasitas penanganan kota ini kewalahan,” ujar Lam dalam siaran di stasiun televisi publik, TVB, sebagaimana dilansir Reuters, Senin (14/2).

Lam kemudian mengatakan, saat ini sistem kesehatan Hong Kong mulai kewalahan. Akibatnya, pasien harus menunggu lebih lama hanya untuk dapat mengakses fasilitas isolasi.

Situasi ini sangat tak diinginkan dan pemerintah sangat khawatir juga meminta maaf atas situasi ini,” ucap Lam.

Berdasarkan catatan Badan Rumah Sakit Hong Kong, saat ini tingkat keterisian tempat tidur di RS Covid-19 sudah mencapai 90 persen. Sementara itu, bangsal isolasi juga sudah nyaris penuh.

Di tengah kelimpungan ini, kepala manajer Badan Rumah Sakit Hong Kong, Larry Lee, kembali menegaskan bahwa mereka memprioritaskan perawatan untuk pasien lansia, anak, dan yang mengalami gejala serius.

Saat ini, Hong Kong mencatat 1.530 kasus Covid dalam sehari pada Senin. Namun, melihat gempuran infeksi corona terbaru ini, para ahli medis memperkirakan Hong Kong dapat diserbu 28 ribu kasus Covid-19 sehari pada akhir Maret mendatang.

Namun, Lam memastikan bahwa Hong Kong tak akan menerapkan kebijakan “nol Covid” seperti China, di mana pemerintah akan langsung melakukan tes besar-besaran dan lockdown jika menemukan kasus infeksi corona.

Meski demikian, Hong Kong tetap menerapkan aturan jaga jarak yang ketat. Mereka melarang perkumpulan lebih dari dua orang, sementara fasilitas-fasilitas publik seperti sekolah juga masih ditutup.

Akibat penutupan ini, banyak bisnis terpuruk. Kini, pemerintah pun mendiskusikan kemungkinan suntikan dana sekitar 27 miliar dollar Hong Kong atau setara Rp49,6 triliun untuk membantu para pelaku usaha bertahan.

Related posts