Kedubes India Kosong, Korlap Aksi 2502 Bingung

Massa Aksi 2502 atau aksi solidaritas untuk umat muslim India gagal bertemu pihak Kedutaan Besar India, Jakarta, Jumat (25/2).

Wakil Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni 212 sekaligus Koordinator Lapangan Namrudin mengaku sempat mengutus beberapa perwakilan untuk masuk ke kantor Kedubes India.

Jika tak lekas ada jawaban dari pihak Kedubes India, ia mengklaim massa aksi akan turun dalam jumlah yang lebih besar dan mengusir Dubes India.

Setelah negosiasi, diketahui bahwa tak ada staf Kedubes India di dalamnya, termasuk Dubes India untuk RI Manoj Kumar Bharti.

“Ternyata di sana kosong enggak ada orang, sempat kita utus teman-teman kita. Tapi kosong di dalam, enggak ada. Pengennya kita ketemu, pengen nyampein sikap kita biar enak, kalau kosong gini kan bingung,” tutur Namrudin, di lokasi.

Salah seorang perwakilan massa aksi melalui pengeras suara di mobil komando menyatakan, “Negosiasi yang kami nego, gagal. Di dalam kosong, jadi kita enggak bisa ketemu siapa-siapa di dalam, yang ada setan, setan India”.

Wakil Ketua PA 212 Asep Syarifuddin pihaknya akan merekomendasikan pemerintah Indonesia untuk memutus hubungan diplomatik dengan India.

“Kita kan udah baik-baik nih datang kepada pemerintah India dan kalau ternyata Dubes India tidak menerima kami, maka kami rekomendasikan kepada pemerintah Indonesia untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan India,” tutur dia, di lokasi aksi.

Meski demikian, massa aksi tetap menyampaikan orasi dari atas mobil komando. Salah satu perwakilan meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bersikap proaktif terhadap persoalan ini.

“Jika tidak bisa, lebih baik Pak Jokowi mundur!” ujar seorang orator perempuan dari atas mokom.

Secara garis besar, massa menyampaikan enam sikap dan tuntutan atas diskriminasi umat Muslim di India. Di antaranya Pertama, mengecam keras pembiaran negara atas kekerasan sistematis yang dilakukan oleh kelompok ekstrimis Hindu terhadap muslim India.

“Meminta kepada Organisasi Kerjasama Islam untuk menyelenggarakan sidang darurat atas kondisi yang menimpa umat Islam di India,” lanjut Asep membacakan tuntutan.

Ketiga, meminta Komunitas Internasional untuk tidak berdiam diri dengan bersikap tegas dan memberikan sanksi kepada India demi mencegah terjadinya genosida terhadap muslim di India.

“Pemerintah Indonesia agar bersikap proaktif untuk menghentikan segala bentuk kezaliman, segala bentuk ketidakadilan yang dialami oleh WN India yang beragama Islam,” lanjut Asep.

Berdasar pantauan CNNIndonesia.com, massa mulai mengakhiri aksi pukul 15.55 WIB dengan pembacaan doa yang dipandu dari pengeras suara. Sepuluh menit kemudian, massa mulai meninggalkan lokasi diiringi dengan selawat. Pukul 16.18 WIB, mobil komando turut meninggalkan lokasi.

Sebelumnya, India menjadi sorotan setelah menerapkan kebijakan yang dianggap menyudutkan umat Muslim di negara itu.

Related posts