News  

China Ingin Perkuat Rantai Pasokan, di tengah Kaburnya Investor Asing

Beijing menentang asas proteksionisme dan ingin memperkuat rantai pasokan dengan semua negara, kata Perdana Menteri Li Qiang pada Selasa (28/11), di saat semakin banyak negara yang menyuarakan keprihatinan tentang seberapa besar ketergantungan rantai pasokan mereka terhadap China.

Dalam pidato pembukaan Pameran Rantai Pasokan Internasional pertama yang berlangsung selama lima hari, Li mengatakan, “China tidak hanya menjadi peserta dan penerima manfaat dari kerja sama industri dan rantai pasokan dunia, namun juga pembela dan pembangun yang kuat.”

Li menawarkan empat poin proposal yang mencakup, “semua pihak harus bersama-sama membangun rantai industri dan pasokan yang terbuka dan inklusif, dan dengan tegas menentang proteksionisme dan segala bentuk pemisahan serta gangguan terhadap rantai industri dan pasokan.”

China menyelenggarakan pameran itu setelah perusahaan-perusahaan AS dan Uni Eropa tahun ini mengambil langkah untuk “mengurangi risiko” rantai pasokan mereka dengan meninggalkan China, meskipun Beijing meminta mereka untuk tetap menjadi investornya.

Namun ketegangan geopolitik, seperti perang Rusia di Ukraina dan kecemasan atas kemungkinan invasi China ke Taiwan, membuat perusahaan-perusahaan yang tetap berada di China menjadi khawatir untuk melakukan ekspansi. Sebaliknya, mereka berinvestasi di negara-negara yang memiliki hubungan lebih kuat dengan Amerika Serikat, seperti Vietnam.

Zhang Shaogang, wakil ketua Dewan China untuk Promosi Perdagangan Internasional, salah satu tuan rumah pameran, mengatakan dalam konferensi pers pada 21 November, bahwa sebanyak 515 perusahaan dan organisasi dari 55 negara dan wilayah akan menghadiri acara itu.

Peserta dari luar negeri mencapai 26% dari 515 perusahaan dan organisasi, dan dari kelompok itu, sekitar seperlimanya berasal dari AS.

“Ada banyak pemimpin industri,” kata Zhang. “Sejumlah perusahaan Fortune 500 dan multinasional, seperti Amazon, ExxonMobil, Apple, Tesla, Qualcomm, mengirimkan perwakilan senior ke konferensi itu.”

Wang Hsiu-wen, asisten peneliti di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional di Taipem, mengatakan kepada VOA melalui wawancara telepon pada Selasa bahwa China harus menyadari fakta bahwa iklim investasinya tengah memburuk.

“Perusahaan asing seperti Apple telah meninggalkan China. Apa yang China coba katakan saat ini adalah: Kami memiliki keunggulan di sejumlah industri baru, tolong kembali berinvestasi, kita memiliki kesempatan, dan China ada pasar yang besar,” ujar Wang. [ps/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com