News  

China Rencanakan Aturan Baru tentang Akses Pasar dan Aliran Data

Perdana Menteri China Li Qiang memberitahu para pemimpin eksekutif dunia dan pembuat kebijakan bahwa Beijing akan mempelajari secara cermat masalah akses pasar dan aliran data lintas batas. Ia mengatakan China juga akan segera menerbitkan sejumlah regulasi baru di bidang tersebut.

“Kami dengan tulus menyambut perusahaan-perusahaan dari semua negara untuk berinvestasi di China dan memperdalam kehadiran mereka di China,” ujar Li.

Li memberi tahu peserta Forum Pembangunan China di Beijing bahwa China juga sedang mendorong perkembangan industri yang baru muncul seperti manufaktur biologis, dan akan meningkatkan pengembangan kecerdasan buatan serta ekonomi data.

Beijing pada Selasa melonggarkan beberapa peraturan mengenai investasi asing, setelah arus masuk investasi menyusut hampir 20 persen pada periode Januari-Februari. Regulator dunia maya China pada Jumat melonggarkan beberapa aturan keamanan pada ekspor data yang membuat perusahaan asing di China merasa khawatir.

Inflasi dan utang pemerintah pusat di China relatif rendah, memberikan fleksibilitas untuk mengambil langkah-langkah kebijakan makro lebih lanjut, kata Li dalam forum selama dua hari tersebut. Dia mengacu pada tindakan yang diambil oleh China pada tahun lalu untuk mengatasi risiko properti dan utang, yang diklaim berhasil.

Li mengacu pada pengumuman sebelumnya tentang penerbitan obligasi negara khusus dengan jangka waktu ultra-panjang senilai 1 triliun yuan (setara dengan $140 miliar), yang menurutnya akan meningkatkan investasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil.

Perusahaan-perusahaan asing merasa khawatir setelah China mencabut pembatasan COVID-19 yang sangat ketat pada akhir 2022. Mereka cemas terhadap kondisi lingkungan bisnis, pemulihan ekonomi, dan situasi politik.

China membutuhkan strategi baru untuk menahan penurunan investasi asing dengan menciptakan lingkungan yang adil bagi perusahaan-perusahaan asing. Langkah-langkah tersebut di antaranya menghapus pembatasan akses luar negeri dalam industri manufaktur yang luas di negara itu, serta mendorong ekspansi dalam sektor-sektor seperti telekomunikasi dan layanan kesehatan. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com