News  

Inggris, Uni Eropa Tunda Tarif Mobil Listrik Pasca Brexit

Perdana Menteri Inggris, Rishi Sunak, Kamis (21/12) memuji kesepakatan dengan Uni Eropa untuk menunda tarif atas penjualan kendaraan listrik pasca Brexit yang semestinya akan diterapkan mulai Januari.

Kesepakatan ini tercapai setelah Komisi Eropa setuju pada awal bulan ini, bahwa mereka akan mendukung penundaan tariff yang direncanakan sebesar 10 persen hingga akhir 2026, yang merupakan perubahan besar dari rencana sebelumnya.

Perubahan ini, yang terjadi setelah industri otomotif Uni Eropa dan Inggris menyampaikan kekhawatiran terkait biaya, telah membuka jalan bagi kesepakatan yang diumumkan pada Kamis itu.

Kesepakatan ini akan memperhatikan apa yang disebut sebagai “aturan asal muasal” dan penerapan tarif secara lebih bertahap.

“Kami telah mendengarkan apa yang menjadi keprihainan sektor ini selama proses tersebut, dan saya tahu bahwa terobosan ini menimbulkan kelegaan besar bagi sektor industri ini,” kata Sunak dalam sebuah pernyataan.

Dia menambahkan, langkah ini akan mampu menekan biaya bagi bisnis dan bagi para konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik.

Keterdesakan bagi penundaan ini berasal dari gangguan pada rantai pasokan global yang disebabkan oleh pandemi dan perang di Ukraina, menurut kantor Sunak di Downing Street.

Inggris secara resmi telah meninggalkan Uni Eropa pada Januari 2020, dan selama masa transisi berikutnya, telah menyepakati persetujuan perdagangan bebas pasca Brexit dengan blok Eropa yang akan berlaku pada 2021.

Di bawah kesepakatan itu, tarif akan mulai diberlakukan pada 1 Januari 2024 untuk kendaraan yang tidak memiliki minimum 45 persen kandungan yang dibuat di Inggris atau Uni Eropa, dan dengan baterei yang setidaknya 50-60 persen bahan bakunya bersumber dari negara-negara ini.

Sektor industri ini memperkirakan, langkah untuk menunda ketentuan terkait syarat-syarat itu akan memberikan penghematan bagi pabrikan dan konsumen hingga 4,3 miliar pounds atau sekitar AS $5,5 miliar biaya tambahan, tambah kantor perdana menteri Sunak.

Direktur jenderal dari Asosisasi Produsen Mobil Eropa (ACEA) Sigrid de Vries, menyatakan bahwa kesepakatan itu membawa kepastian yang sangat dibutuhkan bagi rantai pasokan baterei kendaraan listrik.

“Alih-alih menghukum industri hijau, keputusan hari ini memberikan pengakuan bahwa butuh waktu untuk membangun rantai pasokan,” tambah dia.

“Kesepakatan ini juga sebuah sinyal kuat bahwa Uni Eropa bersedia untuk menegakkan daya saing bagi industri-industri penting mereka,” kata de Vries lagi.

Kepala eksekutif dari Masyarakat Produsen dan Pedagang Motor (SMMT) Mike Hawes, menyebut kesepakatan itu sebagai kemenangan bagi pengguna mobil, ekonomi dan lingkungan.

“Mempertahankan perdagangan bebas tarif bagi kendaraan listrik akan memastikan konsumen mendapatkan pilihan model sangat beragam dan paling terjangkau, pada saat kita menginginkan semua pengendara mobil untuk beralih ke kendaraan listrik,” tambahnya. [ns/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com